makalah seni musik tradisional kolintang
BAB I
PENDAHULUAN
1.1 Latar Belakang
. Kolintang atau kulintang adalah
alat musik khas daerah Minahasa, Sulawesi Utara. Kolintang dibuat dari
kayu lokal yang ringan namun kuat seperti telur, bandaran, wenang,
kakinik kayu cempaka, dan yang mempunyai konstruksi fiber
paralel.kolintang juga mengandung nilai-nilai religious yaitu menjadi
salah satu penyebab masuknya agama Kristen di minahasa sampai sekarang .
Beberapa group terkenal seperti Kadoodan, Tamporok, Mawenang yang sudah
eksis lebih dari 35 tahun.Pembuat kolintang tersebar di Minahasa dan di
pulau Jawa,salah satu pembuat kolintang yang terkenal Petrus Kaseke.
1.2 Rumusan masalah
Bagaimana sejarah perkembangan dari MUSIK TRADISIONAL KOLINTANG ?
Sebutkan jenis-jenis alatnya dan Bagaimana cara memainkanya ?
Siapa saja tokoh-tokohnya ?
Group music kolintang ?
1.3 Tujuan
Kami
membuat makalah ini dengan tujuan untuk memenuhi tugas mata pelajaran
SENI MUSIK dan untuk belajar tentang MUSIK TRADISIONAL KOLINTANG.
Untuk mengetahui sejarah dari KOLINTANG
Untuk menambah pengetahuan tentang music tradisional
Untuk agar lebih mengenal siapa tokoh dari music tradisonal kolintang
Agar kita tahu jenis-jenis alat musiknya
Agar kita bisa tahu cara memainkanya
BAB II
PEMBAHASAN
2.1 SEJARAH & PERKEMBANGANNYA
Kolintang
merupakan alat musik khas dari Minahasa (Sulawesi Utara) yang mempunyai
bahan dasar yaitu kayu yang jika dipukul dapat mengeluarkan bunyi yang
cukup panjang dan dapat mencapai nada-nada tinggi maupun rendah seperti
kayu telur, bandaran, wenang, kakinik atau sejenisnya (jenis kayu yang
agak ringan tapi cukup padat dan serat kayunya tersusun sedemikian rupa
membentuk garis-garis sejajar).
Kata
Kolintang berasal dari bunyi : Tong (nada rendah), Ting (nada tinggi)
dan Tang (nada tengah). Dahulu Dalam bahasa daerah Minahasa untuk
mengajak orang bermain kolintang: "Mari kita ber Tong Ting Tang" dengan
ungkapan "Maimo Kumolintang" dan dari kebiasaan itulah muncul nama
"KOLINTANG” untuk alat yang digunakan bermain.
Pada
mulanya kolintang hanya terdiri dari beberapa potong kayu yang
diletakkan berjejer diatas kedua kaki pemainnya dengan posisi duduk di
tanah, dengan kedua kaki terbujur lurus kedepan. Dengan berjalannya
waktu kedua kaki pemain diganti dengan dua batang pisang, atau
kadang-kadang diganti dengan tali seperti arumba dari Jawa Barat.
Sedangkan penggunaan peti sesonator dimulai sejak Pangeran Diponegoro
berada di Minahasa (th.1830). Pada saat itu, konon peralatan gamelan dan
gambang ikut dibawa oleh rombongannya. Adapun pemakaian kolintang erat
hubungannya dengan kepercayaan tradisional rakyat Minahasa, seperti
dalam upacara-upacara ritual sehubungan dengan pemujaan arwah para
leluhur. Itulah sebabnya dengan masuknya agama kristen di Minahasa,
eksistensi kolintang demikian terdesak bahkan hampir menghilang sama
sekali selama ± 100th.
Sesudah
Perang Dunia II, barulah kolintang muncul kembali yang dipelopori oleh
Nelwan Katuuk (seorang yang menyusun nada kolintang menurut susunan nada
musik universal). Pada mulanya hanya terdiri dari satu Melody dengan
susunan nada diatonis, dengan jarak nada 2 oktaf, dan sebagai pengiring
dipakai alat-alat "string" seperti gitar, ukulele dan stringbas.
Tahun
1954 kolintang sudah dibuat 2 ½ oktaf (masih diatonis). Pada tahun 1960
sudah mencapai 3 ½ oktaf dengan nada 1 kruis, naturel, dan 1 mol. Dasar
nada masih terbatas pada tiga kunci (Naturel, 1 mol, dan 1 kruis)
dengan jarak nada 4 ½ oktaf dari F s./d. C. Dan pengembangan musik
kolintang tetap berlangsung baik kualitas alat, perluasan jarak nada,
bentuk peti resonator (untuk memperbaiki suara), maupun penampilan. Saat
ini Kolintang yang dibuat sudah mencapai 6 (enam) oktaf dengan
chromatisch penuh.
SEJARAH KOLINTANG
Kolintang
merupakan nama alat musik gong perunggu abad 17 di Sulawesi Utara,
Sumatra dan Filipina Selatan yang tersebar melalui perdagangan antar
pulau melalui jalur perdagangan sutra. Pusat perdagangan Internasional
adalah Ternate dan Tidore sebagai penghasil rempah-rempah pala dan
cengkih. Jalur perdagangan selatan dari pantai Timur India pelabuhan
Cambaya, Sumatra Utara, Malaka, pantai Utara pulau Jawa lalu ke Ternate
Tidore. Jalur perdagangan Utara dari India ke Malaka, Brunei, Filipina
selatan, Sulawesi Utara, lalu ke Ternate dan Tidore.
Kolintang
gong kemungkinan telah tiba di Minahasa melalui Ternate dari kerajaan
Majapahit (1350-1389) yang armada pelayarannya sudah sampai dikepulauan
Sangihe dan Talaud. Yang sudah tercatat dalam buku negara Kartagama
ditulis : ”Uda Makat raya dinikanang sanusa pupul” (1*) mungkin juga
dari Cina karena pulau Siauw telah tercatat dalam peta pelayaran Cina di
buku ” Shun Feng Hsin Sung” ditulis oleh SHAO (2*) awal abad ke 15.
Tahun
1972 penulis membawa MOMONGAN ( Gong perunggu ) asal Tomohon di
Minahasa yang retak, untuk diperbaiki di Yogyakarta, pengrajin Gong di
Yogyakarta, mengatakan bahwa campuran timah dan tembaga gong tersebut
menunjukkan ciri khas buatan kerajaan Belambangan dari Jawa Timur
(Ditaklukkan Mataram pada tahun 1639).
Beberapa
penulis bangsa barat yang menulis mengenai Minahasaawal abad ke 19
memberi data mengenai alat musik KOLINTANG Minahasa terbuat dari bahan
logam dan bukan dari kayu. Penulis J. Hickson mencatat sebagai berikut
(3*) ...the party next return to the house, the gong kolintang are
sounded ( terjemahan bebas : …peserta pesta upacara kemudian kembali
kerumah, dan gong kolintang lalu dibunyikan.) Selanjutnya penulis J.
Hickson menceritakan mengenai Mapalus dan lebih menjelaskan bahwa
kolintang itu gong (4*) ...Mapalus bieting Gongs / Kolintang (Terjemahan
bebas : ...Pekerja Mapalus memukul Gong / Kolintang ). Nada – nada
Kolintang Gong ditulis oleh N.Graafland dalam bentuk solmisasi, do – mi –
sol – mi ... la – do – fa – si , ada gong besar dengan nada fa rendah
(5*)
(1*) Bandar jalur sutra – dept. P&K – RI. Jakarta 1998. (Alex Ulaen, halaman 108)
(2*) Bandar Jalur Sutra – Dept. P&K – RI. Jakarta 1998. (Alex Ulaen, halaman 109)
(3*) Naturalist in North Celebes – London 1889 (J. Hickson, halaman 292)
(4*) Naturalist in North Celebes – London 1889 (J. Hickson, halaman 234)
(5*) De Minahasa, eerste deel – Batavia 1898 (N.Graafland, halaman 357)
Alat
musik kolintang gong Minahasa jaman tempo dulu dapat kita lihat pada
gambar sketsa buku Ethnographisce Miezelen Minahasa Celebes, A. Meyer
and O. Ritcher di Museum Dresden 1902. Gambar penari Kabasaran memakai
tombak, di iringi musik kolintang gong yang nampak disebelah kanan
bawah, seorang duduk menghadapi kolintang yang terdiri dua deret gong
masing – masing satu deretan terdapat lima gong. Kolintang Gong ini
masih dapat di temukan di Airmadidi bawah wilayah Tonsea milik Ny.
Kilapong dan Ny. Doodoh yang hingga kini musik MAOLING digunakan
mengiringi tari MAPURENGKEY pada upacara perkawinan (6*). Apabila kita
kumpulkan nama instrumen alat musik Gong di wilayah Nusantara dan
Filipina, yang mirip dengan kata KOLINTANG akan terlihat sebgai berikut :
KOLINTANG : Nama alat musik Gong di Minahasa.
GOLINTANG (GORINTANG) : Nama alat musik di Bolaang – Mongondouw.
KELINTANG
: Nama alat musik Gong di Sumatra yang di jadikan perbandingan nama
KOLINTANG oleh penulis N.Graafland sebagai berikut (8*): ...De KOLINTANG
(Minahasa) op Sumatra heet zij KULINTANG (Terjemahan bebas :
...KOLINTANG (Minahasa) di Sumatra bernama KULINTANG.
KULINTANG : Nama alat musik Gong di Kabupaten Ogan Komering Ulu, Sumatra (9*)
Dari
nama-nama leluhur Minahasa jaman lampu seperti, Lintang, Lumintang,
Lantang, Lintong, yang berhubungan dengan nama alat musik gong dan
keterangan bunyi alat musik logam tersebut, TANG, TONG. Menunjukkan
bahwa alat musik gong KOLINTANG itu sudah lama dikenal orang Minahasa,
yang jaman tempo dulu punya nilai yang tinggi dimasyarakat dan hanya
pemimpin masyarakat yang memiliknya yakni dari golongan TONAAS dan
WAILAN. Dapat diambil kesimpulan bahwa leluhur (Opo’) yang mengambil
nama dari alat musik Gong ini memiliki status sosial yang tinggi
dimasyarakat.
Satu
buah alat musik Gong dinamakan ”Momongan”, satu deretan momongan
disebut KOLINTANG terdiri dari lima Gong (Penthatonis), Gong besar
disebut ”Antung” atau ”Rambi”. Orkes musik MAOLING terdiri dari :
Kolintang (Melodi), Momongan, Antung (Bass), Suling dan Tambor (Letek).
Ceritra
rakyat Minahasa mengenal Dewa alat musik ketuk Xylophone dari kayu
(kolintang kayu ) bernama TINGKULENGDENG yang mengetuk-ngetuk bilah kayu
(10*) satu masa hidup dengan dewa MUNTU-UNTU abad ke tujuh (11*)
Hasil survey Koleksi Museum daerah Kebudayaan Minahasa. Kanwil.P&K.1982.
Majalah Filipina ”Quarterly” September.1975.
De Minahasa, N.Graafland.eerste deel. Batavia.1989.
Buku Objek Wisata kabupaten Komering Ulu.Cetakan 1990.
Toumbulusche Pantheon.DR.J.G.F.Riedel.Berlin.1894.
De Watu Rerumeran ne Empung Dr.J.G.F.Riedel.1897.190
Kemudian
ada dewa alat musik gong bernama KOLANTUNG (Antung = Gong besar)
namanya tidak terdapat dalam daftar dewa-dewi tulisan DR.J.G.F.Riedel,
kemungkinan masa hidupnya setelah abad ketujuh.
Kolintang Kayu.
Alat
musik pukul (Diophone) Kolintang Minahasa sekarang ini berbentuk
xylophone kayu dengan tangga nada diatonis (do – re – mi – fa – so – la –
si – do ). Karena alat musik kolintang Minahsa sekarang ini terbuat
dari kayu dan bukan dari bahan logam seperti jaman tempo dulu, maka kita
perlu meneliti alat musik pukul (Diaphone) Minahasa dari bahan kayu
atau bambu. Bahan data sudah sangat sulit ditemukan, hingga harus
kembali meneliti semua alat bunyi-bunyian Minahasa yang terbuat dari
kayu atau bambu seperti TETENGKOREN berbagai jenis dan TENGTENGEN.
Xylophone bambu yang disebut TENGTENGEN (12*) adalah satu-satunya alat
musik purba Minahasa yang masih ada dan pernah dilihat oleh penulis di
Tomohon tahun 1956.
Hasil
penelitian alat musik Xylophone bambu dan kayu Minahasa tertulis dalam
kertas berjudul perkembangan Instrumen musik kolintang pada pusat
latihan kesenian Dinas Kebudayaan DKI Jakarta, proyek peningkatan mutu,
pelatih seni budaya tahun 1991. BAB.Kolintang Tritonis. Dalam bentuk
ceramah pada workshop pelatih musik kolintang se-DKI.1991.
Dalam
makalah ini saya perbaiki lagi karena pengertian KOLINTANG TRITONIS
adalah musik gong, seharusnya TENGTENGEN TRITONIS yang terdiri dari tiga
potong bambu bernada do (1), re (2), mi (3) diletakkan diatas dua
batang pisang yang diletakkan sejajar lalu diketuk-ketuk dengan sepotong
kayu. Dinamakan musik kobong (kebun) karena hanya dimainkan dikebun
oleh petani ketika istirahat makan siang sekitar jam 11.00
(12*) Kamus Tombulu – Minahasa .H.M.Taulu.1971
Not dimankan sebagai berikut
Irama 4/4 3 / 33 33 3 01 / 22 31 2 03 / 1 . 1 1 // 22 22 2 0 / 0 dimainkan berulang-ulang
Tapi
apabila dimainkan oleh tiga orang, maka alat musik itu ada tiga buah
dengan d nada berbeda, alat musik pertama disebut INA’ (ibu) mengambil
alihfungsi melodi, alat kedua disebut KARUA dan alat ketika disebut
KATELU atau LOWAY.
Kemungkinan
besar not Tritonis asli Minahasa purba adalah : Do (1), re (3), mi (3)
dan nada tritonis : mi (3), sol (5), la (6) adalah pengaruh nada
kolintang gong. Asal nama – nama INA’ (Ibu), KARUA dan LOWAY ( bayi
lelaki) kemungkinan besar dari nama – nama ukuran TETENGKOREN, yang
kecil disebut ’INA, yang sedang disebut KARUA atau AMA’ (ayah) yang
besar disebut LOWAY (anak) berhubungan erat dengan nama – nama leluhur
pertama Minahasa LUMIMUUT (ibu) dan TOAR (anak, sekaligus suami).
Menurut para supranatural lobang tetengkoren itu simbol kemaluan wanita.
Mengapa Ibu itu utama dan lebih kecil dari anak, para supranatural
menjelaskan menjelaskan menurut logika mereka, Lipan (kakisaribu) besar
dinamakan KARAMKAN dengan sebutan ”Salina ni Karema” (selimut dewi
karema) dan binatang kecil yang dinamakan ”Anjing Tanah” yang besarnya
seperempat dari Lipan(kakisaribu) mendapat sebutan ”Ina’ni Kama” (Ibu
dari kakisaribu).
Susunan
lengkap alat musik ”Orkes Kobong” TENGTENGEN. Lagu yang dimainkan oleh
TENGTENGEN – INA’ yang berirama walz sering di ikuti oleh beberapa
wanita tua peserta mapalus menari :
¾ Walz pengaruh Spanyol.5 / 6 6 5 / 3 3 5 / 6 6 5 / 3 3 3 / 3 3 3 // 5 3 3 / berulang – ulang
Keberadaan
musik TENGTENGEN – KAYU dari bahan kayu ” Wu’nut ” hanya tinggal nama
disebut ”Kolintang wu’nut” bertangga nada Penthatonia (liam nada) dari
bilah – bilah kayu. Ada informasi bahwa ”musik Kobong ” terbuat dari
kayu pernah dimainkan oleh orang-orang tomohon yang menyingkir ke gunung
Tampusu, dan penduduk Airmadidi yang menyingkir ke kaki Gunung Kalabat
ketika Jepang masuk ke Minahasa tahun 1942 – 1943 jaman perang dunia ke –
II.
Hingga
sekarang ini Xylophone kayu TENGTENGEN masih dimainkan para petani
dikebun ladang atau sawah di wilayah Tonsea Minahasa Utara. Jantje
Dungus menjelaskan bahwa potongan kayu bilah-bilah nadadisebut
PAMENGKELAN dan nama sepotong kayu sebagai alat pemukul di sebut
TE-TENGTENG.
Nama
alat musik Xylaphone kayu bertangga nada Penthatonis Minahasa tidak
lagi diketahui, hanya disebut ” Kolintang Wu’nut”, di Jakarta dinamakan
GAMBANG bertangga nada penthatonis : do (1), re (2), mi (3), sol (5), la
(6) seperti lagu Gambang Kromong Benyamin.S. berjudul ”Ondel-Ondel” di
Filipina disebut GABBANG.
Tangga
nada penthatonis Minahasa hanya dapat ditelusuri melalui penelitian
lagu-lagu tua Minahasa yang bertangga nada penthatonis OWEY dan
Penthatonis ROYOR. Ada kebingungan untuk menentukan mana yang OWEY dan
man yag ROYOR, tapi dengan bantuan seorang pakar tari maengket Bapak
Titus Loho dapat ditentukan bahwa Penthatonis ROYOR bertangga nada : do
(1), re (2), mi (3), sol (5), la (6) pengaruh tangga nada kolintang
gong, dan tangga nada Penthatonis OWEY : mi (3), sol (5), la (6), si
(7), do (1). Dapat dipastikan ada dua jenis ” Kolintang Wu’nut ”
(Kolintang kayu) yang dimainkan pada upacara yang berbeda, tari ”
Kumoyak” oleh kabasaran menggunakan Tangga nada Penthatonis ROYOR :
(13) Jantje Dungus, Suwaan Tonsea. 28 mei 2007.
2.2 JENIS-JENIS ALAT MUSIK KOLINTANG DAN CARA MEMAINKANYA
Alat musik kolintang termasuk jenis instrument perkusi yang berasal dari Minahasa Sulawesi Utara.
Alat musik itu disebut kolintang karena apabila di pukul berbunyi : Tong-Ting –Tang.
Pada mulanya kolintang hanya terdiri dari beberapa potong kayu yang
diletakkan berjejer diatas kedua kaki pemain yang duduk selonjor di
lantai.dan dipukul pukul.
Fungsi
kaki sebagai tumpuan bilah bilah kayu(wilahan/tuts) kemudian diganti
dua potong batang pisang atau dua utas tali. Konon penggunaan peti
resonator sebagai pengganti batang pisang mulai di gunakan sesudah
Pangeran Diponegoro di buang ke Menado (tahun 1830) yang membawa serta
“gambang” gamelannya.
Dahulunya
kolintang hanya terdiri dari beberapa potong kayu yang diletakkan
berjejer di atas kedua kaki pemain yang duduk membujur lurus ke depan di
atas tanah. Kemudian kedua kaki pemain diganti dengan batang pisang
atau kadang-kadang diganti dengan tali. Penggunaan peti resonator mulai
diterapkan pada saat Pangeran Diponegoro dibuang ke Manado tahun 1830,
konon peralatan gamelan ikut dibawa rombongan ini.
Pada
mulanya kolintang terdiri dari satu melodi dengan susunan nada
diatonis, berjarak nada 2 oktaf, dan sebagai pengiring dipakai alat-alat
string seperti gitar, ukulele, dan stringbas. Tahun 1954 kolintang
dibuat 2 setengah oktaf (masih diatonis). Pada tahun 1960 sudah naik
menjadi tiga setengah oktaf (1 kruis, naturel, dan 1 mol) dan bisa
dimainkan 2 orang pada satu alat. Pengembangan musik kolintang tetap
berlangsung baik kualitas alat, perluasan jarak nada, bentuk peti
resonator (untuk memperbaiki suara), maupun penampilan. Saat ini
kolintang yang dibuat sudah mencapai 6 oktaf dengan chromatisch penuh.
Sebuah
kolintang mempunyai 14-21 bilah kayu yang panjangnya sekitar 30-100 cm.
Kayu yang lebih pendek menghasilkan tangga lagu (not) yang tinggi,
sebaliknya kayu yang panjang menghasilkan not yang rendah. Kayunya
adalah kayu lokal seperti, kayu telur, bandaran, wenang, kakinik atau
sejenisnya (jenis kayu yang agak ringan tapi cukup padat dan serat
kayunya disusun agar membentuk garis sejajar). Dalam perkembangannya
saat ini, kayu yang bagus digunakan adalah kayu waru gunung dan kayu
cempaka.
Kolintang sendiri ada 4 tipe, yaitu: soprano, alto, tenor, dan bas.
Permainan
musik kolintang tidaklah individual. Dibutuhkan minimal 6 orang pemain
musik, lebih lengkapnya dibutuhkan 9 orang. Satu set kolintang terdiri
dari: melodi (kolintang 1), pengiring kecil (banjo kolintang),
pengiring menengah (ukulele kolintang), pengiring besar 1 (gitar
kolintang 1), pengiring besar 2 (gitar kolintang 2), bas kecil (sello
kolintang), bas normal (bas kolintang), selain itu juga dilengkapi kotak
dan pemukul serta tutup kolintang.
Perkembangan
kolintang tampil sebagai alat musik tradisional Indonesia di dunia
cukup baik. Banyak kelompok musik yang memainkan kolintang di luar
seperti Singapura, Australia, Belanda, Jerman, Amerika Serikat, Inggris,
dan beberapa negara lainnya. Pemesanan terhadap kolintang pun banyak
berdatangan dari luar seperti Australia, Cina, Korea Selatan, Hong Kong,
dan lain-lain. Permainan musik kolintang banyak ditampilkan untuk
pagelaran-pagelaran seni, pesta pernikahan, upacara penyambutan,
peresmian, pengucapan syukur, dan acara pertandingan. Harmoni dari
berbagai nada terdengar indah dan memukau pendengarnya.
Setiap
alat memiliki nama yang lazim dikenal. Nama atau istilah peralatan
Musik kolintang selain menggunakan bahasa tersebut diatas juga memiliki
nama dengan menggunakan bahasa Minahasa, dan untuk disebut lengkap alat
alat tersebut berjumlah 9 buah. Tetapi untuk kalangan professional,
cukup 6 buah alat sudah dapat memainkan secara lengkap. Kelengkapan alat
tersebut sebagai berikut:
B
- Bas = Loway C - Cello = Cella T - Tenor 1 = Karua - Tenor 2 = Karua
rua A - Alto 1 = Uner - Alto 2 = Uner rua U - Ukulele = Katelu M -
Melody 1 = Ina esa - Melody 2 = Ina rua - Melody 3 = Ina taweng.
Petrus kaseke menamakan alat alat kolintang berdasarkan karakteristik suara dan rentang nada:
1.Melody sebagai penentu lagu
2.Alto sebagai pengiring (accompanion) bernada tinggi
3.Tenor sebagai pengiring (accompanion) bernada rendah
4.Cello sebagai penentu irama dan gabungan accompanion dengan bass
5.Bass sebagai penghasil nada nada rendah.
Alasan
pemberian nama diambil dari pengalamannya memimpin paduan suara dimana
suara perempuan yang tinggi dan suara laki laki yang lebih rendah dibagi
menjadi : sopran,alto,tenor dan bass.
Evert
van lesar : dari Ikatan Pelatih Musik Kolintang Jakarta pada tahun 1996
mempopulerkan nama nama alat kolintang yang menggali dari bahasa daerah
di Minahasa seperti:
Melody= Ina taweng artinya “ibu”
Tenor = Karua artinya "kedua”
Alto = katelu artinya “ketiga”
Cello = sella
Bass = loway artinya “anak laki laki yang berbadan besar”
Penamaan alat kolintang versi lainnya adalah dengan substitusi dari alat musik yang sudah ada.
Tenor = gitar ( dengan wilayah nada yang di tone sepadan dengan senar gitar terendah dan tertinggi)
Alto = Banjo (ukulele)
MELODY
Fungsi
pembawa lagu, dapat disamakan dengan melody gitar, biola, xylophone,
atau vibraphone. Hanya saja dikarenakan suaranya kurang panjang, maka
pada nada yang dinginkan; harus ditahan dengan cara menggetarkan
pemukulnya( rall). Biasanya menggunakan dua pemukul, maka salah satu
melody pokok yang lain kombinasinya sama dengan orang menyanyi duet atau
trio (jika memakai tiga pemukul). Bila ada dua melody, maka dapat
digunakan bersama agar suaranya lebih kuat. Dengan begitu dapat
mengimbangi pengiring (terutama untuk Set Lengkap) atau bisa juga
dimainkan dengan cara memukul nada yang sama tetapi dengan oktaf yang
berbeda. Atau salah satu melody memainkan pokok lagu, yang satunya lagi
improvisasi.
CELLO
Bersama
melody dapat disamakan dengan piano, yaitu; tangan kanan pada piano
diganti dengan melody, tangan kiki pada piano diganti dengan cello.
Tangan kiri pada cello memegang pemukul no.1 berfungsi sebagai bas,
sedangkan tangan kanan berfungsi pengiring (pemukul no.2 dan no.3). Maka
dari itu alat ini sering disebut dengan Contra Bas. Jika dimainkan pada
fungsi cello pada orkes keroncong, akan lebih mudah bila memakai dua
pemukul saja. Sebab fungsi pemukul no.2 dan no.3 sudah ada pada tenor
maupun alto.
TENOR I & ALTO I: Keenam buah pemukul dapat disamakan dengan enam senar gitar.
TENOR II (GITAR) :Sama dengan tenor I, untuk memperkuat pengiring bernada rendah.
ALTO II & BANJO: Sebagai ukulele dan "cuk" pada orkes keroncong.
ALTO III (UKULELE)
: Pada kolintang, alat ini sebagai ‘cimbal’, karena bernada tinggi.
Maka pemukul alto III akan lebih baik jika tidak berkaret asal dimainkan
dengan halus agar tidak menutupi suara melody (lihat petunjuk pemakaian
bass dan melody contra).
BASS : Alat ini berukuran paling besar dan menghasilkan suara yang paling rendah.
SUSUNAN ALAT
Lengkap
(9 pemain) : Melody - Depan tengah Bass - Belakang kiri Cello -
Belakang kanan Alat yang lain tergantung lebar panggung (2 atau 3 baris)
dengan memperhatikan fungsi alat (Tenor & Alto).
NADA NADA DASAR
Nada nada dalam alat kolintang sebagai berikut:
C = 1 3 5 Cm = 1 2 5
D = 2 4 6 Dm = 2 4 6
E = 3 5 7 Em = 3 5 7
F = 4 6 1 Fm = 4 5 1
G = 5 7 2 Gm = 5 6 2
A = 6 1 3 Am = 6 1 3
B = 7 2 4 Bm = 7 2 4
Sedangkan
chord lain, yang merupakan pengembangan dari chord tersebut diatas,
seperti C7 = 1 3 5 6, artinya nada do diturunkan 1 nada maka menjadi le .
Sehingga saat membunyikan 3 bilah dan terdengar unsur bunyi nada ke 7
dalam chord C, maka chord tersebut menjadi chord C7. Demikian pula
dengan chord yang lain.
CARA MEMEGANG PEMUKUL/ STICK KOLINTANG
Memegang
Pemukul Kolintang, memang tidak memiliki ketentuan yang baku,
tergantung dari kebiasaan dan kenyamanan tangan terhadap stik. Tetapi
umumnya memegang stick kolintang dilakukan dengan cara :
No.1 Selalu di tangan kiri
No.2 Di tangan kanan (antara ibu jari dengan telunjuk)
No.3 Di tangan kanan (antara jari tengah dengan jari manis) .
Agar
pemukul no.2 dapat digerakkan dengan bebas mendekat dan menjauh dari
no.3, sesuai dengan accord yang diinginkan. Dan cara memukul dan
disesuaikan dengan ketukan dan irama yang diinginkan, dan setiap alat
memiliki, ciri tertentu sesuai fungsi didalam mengiringi suatu lagu.
Pada alat Bass dan alat Melody umumnya hanya menggunakan 2 stick,
sehingga lebih mudah dan nyaman pada tangan. ( Nomor nomor tersebut
diatas telah tertera disetiap pangkal pemukul stick masing masing alat
kolintang)
Teknik Dasar memainkan stick pada bilah kolintang sesuai alat dan jenis irama
Dari
sekian banyak irama dan juga lagu yang ada, beberapa lagu sebagai
panduan untuk memainkan alat musik kolintang disertakan dalam materi
ini.
Seperti:
• Sarinande • Lapapaja • Halo halo Bandung • Besame Mucho Lagu lagu
tersebut memiliki tingkat kesulitan yang berbeda baik chord dan irama.
Lagu lagu tersebut telah dilengkapi dengan partitur serta chord/ accord
untuk memudahkan memahami alat musik kolintang.
Demikian
pula dengan teknik memukulkan stick pada bilah kolintang. Karena sesuai
irama yang beraneka ragam, maka untuk menghasilkan irama tertentu maka
teknik memukulkan stik pada tiap alat pun berbeda beda. Pada materi ini,
diberikan teknik teknik dasar cara memukulkan stick pada kolintang.
Untuk dapat memahami teknik, dibutuhkan pengetahuan akan harga dan
jumlah ketukan dalam setiap bar nada. Dan berbekal pengetahuan dasar
dasar bermain kolintang ini saja, ditambah dengan bakat individu, maka
grup/ kelompok musik kolintang telah dapat memainkan berbagai jenis lagu
dengan tingkat kesulitan yang variatif secara spontan.
2.3 Tokoh Music Tradisional Kolintang
Adalah
seniman tuna netra asal Minahasa bagian utara yang merangkai nada
kolintang menurut skala diatonis. Orang inilah yang mempopulerkan
kolintang lewat siaran RRI minahasa.
Nelwan Katuuk lahir pada tanggal 30 maret 1920, pada usia 12 tahun
telah menjadi pemukul kolintang perunggu (Gong) untuk memanggil para
pekerja Mapalus. Dia menggunakan nada (14*)/.
Pada
usia 20 tahun Nelwan sudah dapat memainkan biola dan alat musik
Hawaien, tapi kedua alat musik itu sudah sangat sulit ditemukan di
Minahasa. Lalu seseorang bernama William Punu membuat alat musik
Xylophone kayu (Tetengen) bertangga nada diatonis untuk dimainkan
sebagai melodi menggantikan Hawaien (15*).
Tahun
1943 setelah Jepang mendarat di Minahasa pada perang dunia ke-II,
seorang Jepang memberikan alat musik Hawaien, sehingga Nelwan Katuuk
menggunakan tiga alat musik sebagai melodi dalam pertunjukan musiknya.
Xylaphone dari kayu Wanderan yang kemudian disebut kolintang kayu, biola
dan hawaien, kelompok musiknya dinamakan ”NASIB” denga anggota: (16*)
Kolintang
yang merupakan alat musik tradisional rakyat Minahasa sempat dilarang
dimainkan pada masa penjajahan Belanda. Pasalnya, kolintang pada awalnya
digunakan untuk mengiringi upacara ritual pemujaan arwah leluhur oleh
masyarakat setempat.Selama seabad lebih, eksistensi kolintang semakin
terdesak dan hampir punah. Baru setelah Perang Dunia II, sekitar tahun
1952, seorang tunanetra bernama Nelwan Katuuk menghadirkan kembali
instrumen musik ini lewat pagelaran musik yang disiarkan RRI Minahasa.
Permainan
kolintang dari Nelwan Katuuk ternyata menginspirasi seorang bocah
laki-laki berumur 10 tahun dari Ratahan, Minahasa Utara, untuk membuat
alat musik kolintang. Cita rasa bermusik dari lingkungan keluarganya
yang membentuk kepekaannya terhadap nada berpadu dengan keterampilan
menukang kayu yang diperolehnya dari sang kakek.
Hasilnya,
pada tahun 1954 sang bocah berhasil membuat kolintang dengan dua
setengah oktaf nada diatonis. Dengan petunjuk sejumlah orang tua yang
pernah mendengar bunyi alat musik kolintang, ia terus belajar dan
mengembangkan instrumen ini hingga bisa menciptakan tangga nada sampai
tiga setengah oktaf pada tahun 1960.
Dialah
Petrus Kaseke, putra tunggal Pendeta Yohanes Kaseke dan almarhum
Adelina Komalig. Korelasi tingginya kepekaan terhadap nada dengan
tingginya tingkat kecerdasan tampaknya terbukti pada diri Petrus Kaseke.
Meski hidup dari keluarga kurang mampu, di usianya ke-20, Petrus meraih
predikat pelajar berprestasi dan memperoleh beasiswa dari Bupati
Minahasa untuk melanjutkan kuliah di Jurusan Teknik Mesin Universitas
Gadjah Mada.
”Beasiswa
yang saya terima waktu itu Rp 1.000, hanya cukup untuk biaya kos dan
makan selama tiga bulan. Di saat kondisi perekonomian sangat labil,
inflasi meningkat tajam hingga ada kebijakan pemotongan uang Rp 1.000
menjadi Rp 1, saya bertahan hidup dengan main musik kolintang di
Yogyakarta,” kenang Petrus, saat ditemui di rumahnya di Jalan Osamaliki 4
Salatiga, Jawa Tengah, pekan lalu.
Kala
itu kolintang belum banyak dikenal di Pulau Jawa. Di luar dugaan,
sambutan publik terhadap kehadiran kolintang yang diiringi gitar,
ukulele, dan string bas ini ternyata luar biasa. Bahkan, kolintang saat
itu sempat menjadi salah satu media kampanye Partai Kristen Indonesia
(Parkindo) sehingga ia dan rekan-rekannya menerima banyak job bermain
musik kolintang.
Beban
hidup semakin berat, merantau seorang diri di tanah Jawa, sementara
beasiswa dari bupati juga diputus. Setelah enam tahun dan baru meraih
sarjana muda, Petrus terpaksa tak melanjutkan kuliahnya. Kondisi ini
justru membuat Petrus semakin berketetapan hati menggeluti alat musik
kolintang. ”Saya memulai usaha membuat kolintang bermodalkan ’dengkul’.
Uang yang saya peroleh selama mementaskan kolintang, saya gunakan untuk
modal usaha,” kata suami dari Tjio Kioe Giok (62) ini.
Waktu
terus berlalu, usaha Petrus semakin berkembang. Ia juga memiliki
kelompok musik yang sudah pentas melanglang ke berbagai negara di dunia,
seperti Singapura (1970), Australia (1971), Belanda dan sekitarnya,
hingga di Jerman Barat (1972), Amerika Serikat dan Inggris (1973), serta
Swiss, Denmark, Swedia, dan Norwegia (1974). Pada tahun-tahun itu pula,
ia hijrah ke Salatiga dan membangun usahanya di sana. ”Bahan baku
kolintang berupa kayu waru mudah didapatkan di sekitar Rawapening
sehingga saya memilih membuka usaha di Salatiga. Kayu ini kualitasnya
tidak kalah dengan kayu telur, bandaran, wenang, dan kakinik dari
Minahasa. Selain ringan, serat kayunya cukup padat dan membentuk garis
sejajar sehingga menghasilkan bunyi yang nyaring,” ujar bapak dua anak,
Leufrand Kaseke (26) dan Adeline Kaseke (22). Di era 1989 hingga
1990-an, alat musik kolintang sangat populer bagi masyarakat di dalam
negeri maupun luar negeri. Pembuat kolintang pun mulai menjamur. Dalam
sebulan Petrus bisa melayani pembuatan alat musik kolintang hingga 10
set. Kala itu ia bisa mempekerjakan sekitar 20 tukang kayu untuk membuat
instrumen ini. Pemesanan dari luar negeri terus mengalir, antara lain
dari Australia, China, Korea, Hongkong, Swiss, Kanada, Jerman, Belanda,
dan Amerika Serikat. Hampir semua kedutaan besar Indonesia di dunia
mengoleksi alat musik kolintang buatannya.
Era
krisis moneter akhir tahun 1990 ternyata juga menandai jatuhnya
industri alat musik kolintang. Satu per satu perusahaan alat musik
kolintang rontok, bangkrut. Petrus menjadi salah satu dari sekian
perajin alat musik kolintang yang masih bertahan meski pemesanan anjlok,
hanya berkisar 1-2 set per bulan.
”Dari
sisi harga, kolintang yang saya jual memang relatif lebih mahal
daripada produksi di pasaran. Namun, ketepatan nada dan kualitas bunyi
menjadi resep Petrus masih bisa bertahan usahanya hingga saat ini.
Bahkan saat ditemui di rumahnya, ia tengah menyelesaikan pesanan dari
Australia.
”Ketepatan
nada masih bisa tertolong dengan adanya komputer pengukur nada. Tetapi,
untuk kualitas bunyi, tetap perlu kepekaan telinga dan keahlian memilih
bahan baku. Meski nada sudah tepat, bila kualitas bunyinya tidak baik,
batang kayu tersebut langsung saya buang,” kata pria kelahiran Ratahan, 2
Oktober 1942, ini.
Kepiawaian
Petrus membuat alat musik tradisional Minahasa yang hampir punah ini
memang belum pernah mendapat penghargaan yang sebanding dengan sepak
terjangnya selama ini. Ia memang bukan satu-satunya perajin alat musik
kolintang yang masih bertahan. Namun, di tangan dia jua, alat musik ini
mulai merebak ke Pulau Jawa dan merambah seantero dunia.
2.4 GROUP MUSIK KOLINTANG
Bentuk
”Kolintang Band” pertama muncul diwilayah tonsea Minahasa sekitar tahun
1940-an, menurut Bapak Alfred Sundah (1990) para pemusik kolintang Band
Tonsea masih malu-malu karena menggunakan alat musik melodi dari kayu
buatan mereka sendiri. Tapi NELWAN KATUUK tidak peduli bahkan menikmati
orkes musik yang baru ini justru karena dia Tuna Netra.
Yang
menamakan Xylophone kayu dengan sebutan KOLINTANG bukanlah NELWAN
KATUUK tetapi masyarakat Tonsea, hingga muncul dua istilah yakni
kolintang kayu dan kolintang tembaga (Gong).
Dengan
komposisi peralatan musik seperti inilah jenis musik kolintang band
menjadi terkenal di masyarakat Minahasa, Xylaphone kayu buatan sendiri,
lagu cipataan sendiri dan aransemen lagu dibuat sendiri, kreasi musik
tidak tergantung pada siapapun.
Lahirnya
musik kolintang band tidak telepas dari karya musik Nelwan Katuuk yang
membuat alat musing Xylophone kayu bertangga nada diatonis yang akhirnya
menjadi terkenal diseluruh Minahasa.
Nelwan Katuuk : Melodi merangkap Penyanyi
Daniel Katuuk : Gitar akustik
Budiman : String bass
Lontoh Katuuk : Jukulele
Tahun
1945 menciptakan lagu instrumentalia diberi judul ”Mars New Ginea”
mendapat ilham dari kekalahan Jepang di Papua (Irian) oleh sekutu
(Amerika-Autralia), pada tahun 1957 lagu ini sering didengarkan di radio
Australia dengan nama ”Cipson”.
Kelompok musik kolintang band lainnya yang terkenal dimasyarakat Minahasa pada peride itu bernama ”Tumompo Tulen” :
Leser Putong : Melodi
Bibi Putong : String Bass
Wakkari Tuera : Gitar akustik
Usop : Jukulele
Doortje Rotty : Penyanyi
Kolintang
band ini dan lainnya tidak menciptakan lagu dan hanya mengisi acara
hiburan musik, hingga karya musiknya tidak menembus jaman menuju
keabadian seperti karya musik dan lagu Nelwan Katuuk.
Sekitar
tahun 1950-an kolintang band mendapat sebutan nama lain yakni orkes
kolintang, tapi dalam penampilannya lebih populer disebut ”Kolintang
Engkel” Karena hanya menggunakan satu alat kolintang kayu berfungsi
sebagai melodi (17*)
Orkes
kolintang kemudian mulai berkembang sampai keluar Minahasa. Antara lain
di Bandung bernama kolintang ”Maesa Bandung” tahun 1959 pimpinan Hannes
Undap. Melodi : Nico Koroh
Gitar Akustik : Reni Mailangkai
Jorry Mowilos
Jukulele : Ferdie Lontoh
Ben Makalew
String Bass : Jessy Wenas
Penyanyi : Elly Doodoh
Winter Sisters
Karena
alat musik kolintang yang dipesan dari Manado tidak punya kaki, maka
dalam pertunjukan pentas kolintang diletakkan pada dua buah kursi.
Walaupun
sudah berganti nama orkes kolintang periode 1950 – 1964, tetapi
penampilannya masih mirip kolintang band, dan sudah mulai menggunakan
nada ½ (setengah) : di – ri – fi – sel – le .
Para pemain melodi kolintang kayu pada periode ini antara lain (18*) :
1. Janjte Dungus (Suwaan – Tonsea) Kolintang ” Karpilo”
2. Josep Iwi Sundah (Lembean)
3. Gustaaf Warouw (Tomohon) Kolintang ”Rayuan Masa”
4. Bert Rako (Kakaskasen – Tomohon)
5. Worang Ransun (Maumbi – Tonsea )
Kolintang Tamporok
adalah salah satu grup musik tradisional Indonesia yang berasal dari
Minahasa Sulawesi Utara. Tamporok berasal dari bahasa Tonsea dan
memiliki arti NAMA GUNUNG TERTINGGI di Sulawesi Utara yaitu gunung
Klabat adalah puncak gunungnya diambil dari Bandara Samratulangi. Group
ini Berdiri tgl 19 Mei 1975 di Jakarta dan masih eksis hingga saat ini.
memiliki rekaman baik lagu lagu daerah Minahasa dan juga album Natal dan
Rohani..
personil group adalah:
Berty Rarun
TAMPOROK terdiri dari:
Jantje Posumah – Juke
Felix Luntungan – Gitar 1
Denny Mautofani – Bass&Gitar
Martje Lengkong – Penyanyi
BAB III
PENUTUP
3.1 KESIMPULAN
Music
tradisional Kolintang adalah music perkusi yang berasal dari
Minahasa, Sulawesi utara. Music yang terbuat dari kayu dan bunyinya
dapat mencapai nada-nada yang tinggi. Petrus kaseke adalah salah satu
tokoh yang berhasil mempopulerkan Kolintang sejak dia kecil. Kolintang
juga dapat dibuat sebagai music pengiring ritual-ritual agama kristen.
Untuk memainkan kolintang dengan maksimal harus latihan dengan
cara-cara yang kami sebutkan di atas tadi. Dan alat-alatnya meliputi
melody,alto,ukulele,tenor, dll.
3.2 SARAN
Dengan
dibuatnya makalah ini penyusun mengharapkan para pembaca bisa
mengetahui,memahami, dan memainkan music kolintang. Untuk bisa memahami
dan memainkan music kolintang di perlukan kekompakan dan latihan yang
cukup bagus. Dan juga membutuhkan pikiran yang fresh agar tidak ada
kesalah pahaman dalam memainkan karena kolintang itu dimainkan secara
bersama. Kita boleh memainkan dan menyukai alat musiknya tapi jangan
berpindah agama hanya karena sejarah music ini.
DAFTAR PUSTAKA